Fakta Film Tilik Yang Menarik Untuk Dibahas

fakta film tilik dan scene menarik

Artis peran Siti Fauziah sempat menangis karena Fakta Film Tilik dianggap sebagai film yang tidak mendidik hingga anti-feminisme. Tak bisa dipungkiri komentar tersebut sangat berpengaruh pada Siti Fauziah sebagai salah satu pemeran film Tilik. Kepada Nagita Slavina, Siti Fauziah menceritakan perasaannya mendapat banyak kritik tersebut.

Tak hanya itu, Fakta Film Tilik ini juga sempat menduduki trending nomor satu di Twitter.

Siti Fauziah mengaku sakit hati bahkan sampai menangis berhari-hari karena film Tilik dianggap tidak mendidik. Beruntung, menurut Siti Fauziah, sang suami, Suryo Wiyogo mencoba untuk menenangkannya dengan memberikan dukungan dan pesan positif.“Suami sempat bilang, ‘ya begitulah dunia ada yang pro ada yang kontra’, ada yin dan yang ibaratnya. Biar tetap sehat harus ada kritik, ada kontrol sosialnya istilahnya,” ujar Siti Fauziah. Pemeran Bu Tejo dalam film pendek Tilik ini bersyukur mempunyai suami yang selalu mendampingi dan mendukung kariernya.

Pada akhir perbincangan, Siti Fauziah berterima kasih kepada semua yang telah menonton film pendek Tilik. Kedepannya, Siti Fauziah berharap karya-karya film pendek anak bangsa mendapat apresiasi tinggi. “Teman-teman makasih sudah nonton film Tilik, diapresiasi film pendek yang lainnya tentu saja banyak sekali film-film bagus produk anak negeri dan tonton secara legal, itu penting,” kata Siti Fauziah. Film ‘Tilik’ asal Yogyakarta belum lama ini menuai sorotan publik bahkan viral di media sosial.

Karakter Bu Tejo yang diperankan Siti Fauziah itu dianggap mewakili karakter oknum ibu-ibu di desa yang senang bergosip. Bersama dengan gerombolan ibu-ibu yang lain, Bu Tejo membicarakan soal Dian, seorang kembang desa. Karena paras wajahnya, tidak sedikit lelaki yang mendekatinya hingga datang melamarnya. Oleh sebab itu, warga desa bergunjing tentang status lajang Dian.

Kendati demikian, terdapat cerita menarik di balik proses produksi film Tilik garapan sutradara Wahyu Agung Prasetyo. Bersama dengan gerombolan ibu-ibu yang lain, Bu Tejo membicarakan soal Dian, seorang kembang desa. Karena paras wajahnya, tidak sedikit lelaki yang mendekatinya hingga datang melamarnya. Oleh sebab itu, warga desa bergunjing tentang status lajang Dian.

Kendati demikian, terdapat cerita menarik di balik proses produksi film Tilik garapan sutradara Wahyu Agung Prasetyo. Fenomena budaya tilik (menjenguk) yang saya sendiri sebenarnya enggak pernah mengalami itu sama sekali dan enggak pernah melihat itu secara langsung,” kata Agung. Tahunya Agung adanya budaya tilik di masyarakat itu setelah penulis film, Bagus Sumartono, menceritakan hal tersebut kepadanya.

“Akhirnya saya tertarik buat melihat, observasi dan ternyata memang setelah melihat langsung itu gimana ya, rasanya kayak klik (cocok) gitu,” ungkap Agung. Setelahnya, gairah Agung membuncah untuk mengangkat kisah tilik ke dalam sebuah film pendek. “Melihat femomenanya dan itu yang membuat saya ‘wah ini harus di-film-kan, ini harus dirangkai jadi audio visual’,” kata Agung.


Setelahnya, gairah Agung membuncah untuk mengangkat kisah tilik ke dalam sebuah film pendek. “Melihat femomenanya dan itu yang membuat saya ‘wah ini harus di-film-kan, ini harus dirangkai jadi audio visual’,” kata Agung. Nah ini yang menjadi rentan, mejadi penting kenapa film ini harus diproduksi sekarang,” ucap Agung. Namun siapa yang sangka ia justru terlihat natural saat masuk dalam set dan memulai adegannya.

“Di luar main talent, kita melibatkan banyak ekstras. Melibatkan supporting talent yang ada namanya Mas Gotrek,” ujar Agung. Gotrek berperan sebagai sopir truk yang membawa rombongan ibu-ibu. “Dia seorang sopir truk yang baru pertama kali main film. Cuma punya basic main ketoprak dan lucunya ketika kita reading, dia kelihatan kaku banget. Ternyata ketika sudah main, sudah di set, ternyata dia luwes banget,” tuturnya lagi.

Leave a Reply